BOY RAJA P. MARPAUNG, SH & REKAN

  • Alamat dan Kontak Kantor Hukum BOY RAJA P. MARPAUNG, SH dan REKAN

    -
  • KARTU NAMA BAPAK BOY RAJA MARPAUNG, SH

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 09 Mei 2014

Komunalisme Masyarakat dan Pemanfaatan Hutan


terbit di Harian Medan Bisnis 9 Mei 2014

*Boy Raja Pangihutan Marpaung
            Sejarah perkembangan manusia pada awalnya merupakan sejarah berkelompok atau yang sering disebut komunal atau gen masyarakat. Dari awal komunal primirif hingga menuju kemajuan berkelompok secara modern dan global yakni yang akhirnya bernegara seperti sekarang ini. Namun perubahan dalam hal memahami komunalisme pada diri masyarakat tidaklah secepat perubahan perkembangan bentuk komunal seperti konsep negara.
            Apalagi melihat wajah sebenarnya Indonesia yang beribu jenis gen masyarakat. Itu tentu dapat dilihat dari suku-suku yang memiliki perbedadaan dalam sikap  kebiasaan-kebiasaan komunalisme masing-masing. Namun meskipun ada perbedaan dalam sistem kebiasaannya, jika di bidang hal bertahan hidup semua gen di Indonesia hampirlah sama. Tidak ada gen masyarakat yang jauh dari pemanfaatan sumber daya alam. Misalnya jika yang berasal dari pesisir tentu memanfaatkan lautan sebagai sumber kehidupan dan yang berada di hutan tentu memanfaatkan hutan sebagai sumber kehidupan.
Hal ini lah yang mempersatukan seluruh gen masyarakat di Indonesia untuk melawan penjajahan Belanda yang telah merampas semua sumber daya alam yang juga mengancam keberlanjutan kehidupan setiap gen.

Komunalisme Masyarakat
Sekarang Indonesia sudalah merdeka dan menjadi sebuah negara yang menyambungkan setiap gen mayarakat yang dulu masih bersifat komunal primitif kini bersatu dan terkordinasi melalui setiap struktur negara tinggakat desa. Namun kebiasaan dalam hal komunalisme masyarakat tidak lah hilang begitu saja. Sebagian masyarakat masih lah mewarisi kebiasaan-kebiasaan itu dalam menjalankan gen baru yaitu tingkat desa.
Gen masyarakat ini saat ini sering di sebut sebagai Masyarakat adat. Masyarakat ini masih menggunakan kebiasaan i jaman gen dulu, terlihat dari sistem mereka bertahan hidup melalui pertanian dan adanya kerjasama bergantian untuk menyelesaikan setiap pengerjaan atau panen nya pertanian. Bukan hanya itu saja, masyarakat masih menganut hak kepemilikan adat seperti yang mereka sebutkan hutan adat dan tanah adat/ulayat. Itu merupakan lahan yang di miliki adat, setiap orang berhak mengelolah dan menggunakannya untuk menjadikannya sumber kehidupan asalkan tidak dijadikan milik pribadi dan tidak di jual.
Contoh masyarakat yang terdekat yang masih dapat kita temui yang masih menganut hal ini seperti masyarakat Batak Toba. Ada beberapa daerah seperti di Kabpaten Tobasamosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan dan Dairi. Mayoritas masyarakat di sini  masih mengnaut komunalisme seperti marsiadap ari (bekerja sama dengan seluruh masyarakat kampung untuk menyelesaikan pertanian secara bergantian), ada juga yang masih memanfaatkan hutan adat seperti hutan kemenyan di Humbahas dan beberapa desa di Tobasa dan Taput. Dan di akhir panen selesai, biasanya seluruh masyarakat desa merayakan hasil panen itu secara bersamaan dengan membuat pesta gondang naposo (gendang remaja).
Kebersamaan gen yang kini berubah sebutan dengan masyarakat ini tentu memiliki kebiasaan yang berbeda untuk menunjukan komunalisme mereka di setiap daerah. Ada kegiatan-kegiatan tertentu yang membuktikan bahwasanya komunalisme mereka itu tidak lah hilang begitu saja. Kalau di batak toba sendiri jangan heran ketika kita berada di salah satu kampung yang nama kampung itu adalah nama salah satu marga batak toba dan semua penghuninya bermarga kampung tersebut. Nah seperti itu lah gen itu muncul di daerah itu, adanya pembuka kampung yang memiliki marga dan membuat nama kampung itu dengan marga tersebut. Seperti biasannya kampung itu merupakan tanah adat yang dimiliki bersama oleh gen (marga) generasi pembuka kampung itu.

            Pemanfaatan Hutan
            Kehidupan yang tidak pernah terlepas dari alam tentu membuktikan bahwa tidak terpisahkannya masyarakat adat dari hutan. Beberapa kejadian di Indonesia yang ingin memisahkan masyarakat dengan hutan adat mereka seperti Suku Anak dalam di Jambi, Masarakat Humbahas dengan Kemenyan, masayarakat Taput di Parombuan dan Masyarakat Sulawesi selatan di Katu. Akhirnya kejadian seperti ini akan mengakibatkan terjadinya konflik antara masyarakat adat dengan pihak pemerintah maupun pihak perusahaan yang mendapatkan izin Hak Guna Usaha dari negara.
            Jika sang pembaca salah satu masyarakat adat, tentu masih mengingat mitos-mitos orang tua atau nenek kita dahulu, jika kita masuk hutan dan merusak huta, apalagi mengambil kayu bakar berlebihan, maka kita akan tersesat di hutan. Jika di generalisasikan dengan jaman sekarang tentu kita nalar kan kehadiran mitos tersebut agar kita tidak merusak hutan.  Namun kini setelah kelompok semkin besar yakni bernegara malah membuat kita semakin lemah untuk mempertahankan dan menjaga hutan-hutan adat tersebut.
            Tidak mungkin dipisahkan begitu saja, banyak masyarkat adat yang hidup dengan hutan dan bahkan mereka merawat dan sama sekali tidak merusaknya. Namun terpaksa di gusur secara kasar hanya karena pembangunan sebuah perusahaan tambang, perkebunan dan pembangunan-pembangunan property. Hilangnya pemanfatan hutan oleh masyarakat adat tersebut tentu akan mempengaruhi komunalismeyang ada di masyarakat itu sendiri. Bukan hanya itu saja, tentu menjadi sebuah penyebab hilang nya beberapa gen akibat digusur.
            Perlu dipahami, dari sejarah masyarakat Indonesia, sampai Indonesia sendiri yang menghilangkan sejarah masyarakatnya dengan cara tidak menghormati dan mengakui masyarakat adat tentu mengancam sejarah dan keberadaan Indonesia sendiri. Mungkin menjadi peringatan kepada Indonesia ketiga lahirnya gerakan- gerakan seperti Gerakan Aceh Merdeka, Operasi Papua Merdeka, Republik Maluku Selatan dan kini para akademisi Sumut sedang menggagas Sumut Merdeka.
            Pengakuan atas masyarakat dan adatnya, serta menghormati hak-hak adat mereka merupakan masadepan Indonesia yang lebik dan lebih utuh.
*Penulis adalah staf di Lembaga Penelitian dan Riset HaRI (Hutan Rakyat Institute)

Share:

Minggu, 06 April 2014

Pesan Belukar untuk Gadisku



Hei gadisku, 
Akan ku taruh bunga di telinga mu
Ku pilih, ku petik dan ku jamin
Bunga itu tanpa rekayasa genetika

Hei gadisku
Akan ku carikan hutan yang masih utuh
Di sela kasat mata mereka yang tak melihat
Yang tak di sentuh oleh gergaji kayu

Hei gadisku,
Akan ku carikan dataran tropis yang hijau
Tempat dimana bungamu tumbuh
Di sela pepohonan yang masih bersiamang
Mengikuti jalan atas perintah si kukang

Hei gadisku,
Akan ku telusuri katulistiwa berbukit
Melihat kijang akan mulai berlarian
Mengejar para burung penghisap madu

Hei gadisku,
Akan ku dapatkan senyum mu
Di balik penderitaan hutan yang melayu
Tangis tanah yang berkimia terpijak

Hei gadisku,
Akan kau dengar jelas cerita bunga di telinga mu
Di balik indah mekar kembangnya
Ada gumaman jerit saudara-saudaranya



Medan, 1 April 2014
#Harimonting
Share:

Selasa, 11 Februari 2014

Instrumen Penelitian Etnografi



Oleh Wina Khairina[1]


[1] Lampiran Tesis Wina Khairina, Konfik Agraria Desa Pergulaan VS PT. London Sumatera Indonesia Tbk, Tesis, sekolah Pasca Sarjana Antropologi Sosial, UNIMED, 2013, tidak di terbitkan. Disarikan dari Spradley, James, 1997. Metode Etnografi, Yogyakarta, PT. Tiara Wacana Yogya.



Terdapat 12 langkah didalam penelitian etnografi. Kedua belas langkah tersebut diuraikan dalam langkah berikut :
  1. Langkah ke 1; Menetapkan Seorang Informan.
Menentukan informan awal secara langsung sebagai informan kunci. Seorang informan kunci yang baik memiliki prasyarat (1) enkulturasi penuh didalam masyarakat, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non analitis. Tidak semua informan yang diwawancarai akan memenuhi prasyarat tersebut, namun seorang informan kunci harus memiliki kelimanya.

  1. Langkah ke 2; Melakukan Wawancara Dengan Informan.
Wawancara etnografis merupakan peristiwa percakapan (speech event) yang khusus. Ciri-ciri wawancara etnografis adalah :
(1)   Tujuan Eksplisit, arah wawancara yang disampaikan oleh etnografer kepada informan. Dengan adanya tujuan dan arah ini, maka percakapan cenderung lebih formal, etnografer dapat mengontrol pembicaraan sehingga temuan terhadap budaya informan bisa dilakukan.
(2)   Penjelasan etnografis, diantaranya (a) penjelasan tujuan proyek penelitian penggalian budaya, (b) penjelasan perekaman wawancara baik tulisan maupun digital, (c) penjelasan bahasa asli, mendorong informan  mengunakan suasana budaya informan sendiri, (d) penjelasan wawancara, terkait model wawancara yang akan dilakukan, misalnya pembuatan peta, menseleksi istilah dalam kartu, dll, (e) penjelasan pertanyaan yang digunakan.
(3)   Pertanyaan etnografis, terdiri dari (a) pertanyaan deskriftif, adalah pertanyaan yang minta informan menjelaskan/mendeskripsikan tentang suatu topic tertentu,  (b) pertanyaan structural yaitu pertanyaan yang memungkinkan etnografer untuk menemukan informasi domain unsure-unsur dasar dalam budaya seseorang, (c) pertanyaan kontras, digunakan untuk menemukan perbedaan antara berbagai objek atau topik maupun peristiwa didalam dunia informan.

  1. Langkah ke 3; Membuat Catatan Etnografis.
Catatan etnografis meliputi catatan lapangan, alat perekam, gambar, artefak, dan benda lain yang mendokumentasikan suasana budaya yang dipelajari. Catatan etnografis ini diambil dari berbagai peristiwa yang terjadi didalam masyarakat dalam suatu periode tertentu, yang meliputi  berbagai tanggapan informan  terhadap etnografer dengan berbagai pertanyaan, tes dan perlengkapannya. Pembuatan catatan etnografis melalui proses dari penemuan etnografis, ke membuat sebuah catatan etnografis, dan kemudian melakukan deskrifsi etnografis. Ketiga hal ini terjadi selama proses penelitian terus menerus. Didalam membuat catatan etnografis ini, bisa mengunakan (a) prinsip identifikasi bahasa dan (b) prinsif harfiah, keduanya mempunyai tujuan tunggal yaitu mengurangi pengaruh kepandaian etnografer untuk menerjemahkan ketika membuat catatan etnografis. Beberapa jenis catatan lapangan antara lain : laporan ringkas, (b) laporan diperluas, (c)jurnal penelitian lapangan.

  1. Langkah ke 4; Mengajukan Pertanyaan Deskriptif.
Wawancara etnografis meliputi proses mengembangkan hubungan dan memperoleh informasi. Proses ini saling melengkapi , dengan terbangunnya hubungan, maka informan terdorong untuk menceritakan budaya yang dimilikinya. Sehingga informasi yang dibuthkan oleh etnografer bisa didapatkan. Dalam proses ini melewati tahapan keprihatinan – penjajagan – kerjasama – partisipasi.

  1. Langkah ke 5; Melakukan Analisis Wawancara Etnografis.
Analisis terhadap data wawancara harus dilakukan sebelum melakukan wawancara berikutnya. Analisis etnografis merujuk pada pengujian sistematis terhadap sesuatu yang menentukan bagian-bagiannya, hubungan diantara bagian-bagian, serta hubungan bagian-bagian itu dengan keseluruhannya, yang mengarah pada penemuan kerangka pengetahuan budaya. Ada banyak cara untuk menganalisis suatu fonemena. Domain adalah kategorisimbolik yang mencakup kategori-kategori lain. Sebuah domain terdiri dari batas, istilah tercakup, hubungan semantic dan istilah pencakup.

  1. Langkah ke 6; Membuat Analisis Domain
Ada beberapa langkah yang bisa digunakan dalam melakukan analisis domain :
(a)    Langkah 1, Memilih satu hubungan semantic tunggal, yaitu memulai dengan melihat hubungan semantic universal, kemudian focus pada kata benda dan pada kata kerja.
(b)   Langkah 2, Mempersiapkan Satu Lembar Kerja Analisis Domain, yaitu upaya memvisualisasikan istilah pencakup, hubungan semantic, istilah tercakup dan batas. Bisa dengan kertas kerja tersendiri untuk memasukkan informasi tertentu sebelum memulai pencarian yaitu (1) hubungan semantic yang dipilih, (2) statement dalam bentuk yang di ekspresikan, (3) contoh dari budaya anda kalimat yang memiliki istilah tercakup, hubungan semantic dan satu istilah pencakup
(c)    Langkah 3, Memilih satu sampel dari statement informan, yaitu pernyataan informan secara harfiah, bahkan fragmen-fragment pembicaraan dengan informan  secara partisipasi.
(d)   Langkah 4, Mencari sitilah pencakup dan istilah tercakup yang memungkinkan dan sesuai dengan hubungan semantic.
(e)    Langkah 5, Memformulasikan pertanyaan-pertanyaan structural untuk masing-masing domain.
(f)    Langkah 6, Membuat daftar untuk semua domain yang dihipotesiskan.

  1. Langkah ke 7; Mengajukan Pertanyaan Struktural.
Pertanyaan structural harus mempertimbangkan (a) prinsip konkuren yaitu bahwa yangpaling baik adalah mengganti berbagai type pertanyaan dalam masing-masing wawancara , (b) prinsip penjelasan, yaitu pertanyaan yang seringkali menuntut penjelasan, (c) prinsip pengulangan yaitu pertanyaan structural yang harus di ulang-ulang berkali-kali untuk memperoleh semua istilah tercakup dalam sebuah domain, (d) prinsip konteks yaitu informasi yang diberikan etnografer ketika mengajukanpertanyaan structural dalam rangka memberikan setting dimana domain itu menjaid relevan, (e) prinsip kerangka kerja budaya yaitu memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan structural yang diajukan harus dalam konteks budaya informan.  Harus diingat bahwa pertanyaan structural ini melengkapi bukan menggantikan pertanyaan deskriptif.

Type pertanyaan structural terdiri dari (a) pertanyaan pembuktian (b) pertanyaan istilah pencakup, (c) pertanyaan istilah tercakup, (d) pertanyaan kerangka substansi. Dari pertanyaan structural ini, sering menghasilkan daftar istilah-istilah penduduk asli. Sangat baik bila dituliskan pada kartu, kemudian dapat melakukan tri angulasi kepada informan.

  1. Langkah ke 8; Membuat Analisis Taksonomik.
Analisis taksonomik dilakukan untuk mengidentifikasi subset-subset dalam sebuah domain dan berbagai hubungan diantara subset tersebut. Dengan melakukan analisa taksonomik, maka kita akan menemukan struktur internal sebuah domain.

  1. Langkah ke 9; Mengajukan Pertanyaan Kontras.
Dari hasil analisis taksonomi diperoleh takson-takson. Berdasar dari takson-takson yang ada, dilakukan penelitian selanjutnya dengan mengajukan pertanyaan kontras kepada informan untuk mencari hubungan antara domain yang satu dengan domain yang lain, dan untuk mencari perbedaan-perbedaannya. Dengan mengetahui perbedaan tersebut, maka etnografer dapat memperoleh makna menyeluruh tentang informasi dari para informan.

  1. Langkah ke10, Membuat Analisis Komponen.
Analisis komponen merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya. Dalam analisis komponen, meliputi keseluruhan proses pencarian berbagai kontras, pemilihan berbagai kontras, mengelompokkannya sebagai dimensi kontras, danmemasukkan semua itu kedalam sebuah paradigm. Dengan kata lain, dari hasil pertanyaan kontras, peneliti menganalisis komponen-komponen yang terdapat didalam domain-domain. Dalam analisis komponen ini dipersiapkan lembar paradigma untuk mencari komponen menurut karakteristik dari setiap domain.

  1. Langkah ke 11; Menemukan Thema-Thema Budaya
Spradley mendefinisikan tema budaya sebagai prinsip kognitif yang bersifat tersirat maupun tersurat, berulang dalam sejumlah domain dan berperan sebagai suatu hubungan diantara berbagai sub sistem makna budaya. Untuk itu, tema-tema budaya memiliki (a) prinsip kognitif, yaitu peta kognitif yang membentuk suatu kebudayaan, (b) tersirat atau tersurat, yaitu yang tampak seperti pribahasa rakyat, motto, pepatah, atau ekspresi berulang, (c) tema sebagai hubungan,  yaitu menghubungkan berbagai sub system didalam kebudayaan.

  1. Langkah ke 12; Menulis Sebuah Etnografi
Cara terbaik untuk menulis sebuah etnografi adalah dengan membaca etnografi lain. Untuk itu, kita harus memilih etnografi yang ditulis dengan cara membuat budaya itu hidup sehinga membuat pembaca memahami orang-orang serta cara mereka hidup. Membaca etnografi yang baik selama proses penulisan, secara tidak langsung akan membuat tulisan kita membaik  tanpa kita sadari.

Beberapa tahapan pembuatan etnografi : Tahap 1, Statement-statement universal, (b) Tahap 2, Statement-statement deskriftif lintas budaya, (c) Tahap 3, Statement umum mengenai suatu masyarakat atau kelompok budaya, (d) Tahap 4, Statement umum mengenai suatu suasana budaya, (e) Tahap 5, Statement spesifik mengenai sebuah domain budaya dan (f) Tahap 6, Statement insiden sfesifik.
 Terdapat 12 langkah didalam penelitian etnografi. Kedua belas langkah tersebut diuraikan dalam langkah berikut :
  1. Langkah ke 1; Menetapkan Seorang Informan.
Menentukan informan awal secara langsung sebagai informan kunci. Seorang informan kunci yang baik memiliki prasyarat (1) enkulturasi penuh didalam masyarakat, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non analitis. Tidak semua informan yang diwawancarai akan memenuhi prasyarat tersebut, namun seorang informan kunci harus memiliki kelimanya.

  1. Langkah ke 2; Melakukan Wawancara Dengan Informan.
Wawancara etnografis merupakan peristiwa percakapan (speech event) yang khusus. Ciri-ciri wawancara etnografis adalah :
(1)   Tujuan Eksplisit, arah wawancara yang disampaikan oleh etnografer kepada informan. Dengan adanya tujuan dan arah ini, maka percakapan cenderung lebih formal, etnografer dapat mengontrol pembicaraan sehingga temuan terhadap budaya informan bisa dilakukan.
(2)   Penjelasan etnografis, diantaranya (a) penjelasan tujuan proyek penelitian penggalian budaya, (b) penjelasan perekaman wawancara baik tulisan maupun digital, (c) penjelasan bahasa asli, mendorong informan  mengunakan suasana budaya informan sendiri, (d) penjelasan wawancara, terkait model wawancara yang akan dilakukan, misalnya pembuatan peta, menseleksi istilah dalam kartu, dll, (e) penjelasan pertanyaan yang digunakan.
(3)   Pertanyaan etnografis, terdiri dari (a) pertanyaan deskriftif, adalah pertanyaan yang minta informan menjelaskan/mendeskripsikan tentang suatu topic tertentu,  (b) pertanyaan structural yaitu pertanyaan yang memungkinkan etnografer untuk menemukan informasi domain unsure-unsur dasar dalam budaya seseorang, (c) pertanyaan kontras, digunakan untuk menemukan perbedaan antara berbagai objek atau topik maupun peristiwa didalam dunia informan.

  1. Langkah ke 3; Membuat Catatan Etnografis.
Catatan etnografis meliputi catatan lapangan, alat perekam, gambar, artefak, dan benda lain yang mendokumentasikan suasana budaya yang dipelajari. Catatan etnografis ini diambil dari berbagai peristiwa yang terjadi didalam masyarakat dalam suatu periode tertentu, yang meliputi  berbagai tanggapan informan  terhadap etnografer dengan berbagai pertanyaan, tes dan perlengkapannya. Pembuatan catatan etnografis melalui proses dari penemuan etnografis, ke membuat sebuah catatan etnografis, dan kemudian melakukan deskrifsi etnografis. Ketiga hal ini terjadi selama proses penelitian terus menerus. Didalam membuat catatan etnografis ini, bisa mengunakan (a) prinsip identifikasi bahasa dan (b) prinsif harfiah, keduanya mempunyai tujuan tunggal yaitu mengurangi pengaruh kepandaian etnografer untuk menerjemahkan ketika membuat catatan etnografis. Beberapa jenis catatan lapangan antara lain : laporan ringkas, (b) laporan diperluas, (c)jurnal penelitian lapangan.

  1. Langkah ke 4; Mengajukan Pertanyaan Deskriptif.
Wawancara etnografis meliputi proses mengembangkan hubungan dan memperoleh informasi. Proses ini saling melengkapi , dengan terbangunnya hubungan, maka informan terdorong untuk menceritakan budaya yang dimilikinya. Sehingga informasi yang dibuthkan oleh etnografer bisa didapatkan. Dalam proses ini melewati tahapan keprihatinan – penjajagan – kerjasama – partisipasi.

  1. Langkah ke 5; Melakukan Analisis Wawancara Etnografis.
Analisis terhadap data wawancara harus dilakukan sebelum melakukan wawancara berikutnya. Analisis etnografis merujuk pada pengujian sistematis terhadap sesuatu yang menentukan bagian-bagiannya, hubungan diantara bagian-bagian, serta hubungan bagian-bagian itu dengan keseluruhannya, yang mengarah pada penemuan kerangka pengetahuan budaya. Ada banyak cara untuk menganalisis suatu fonemena. Domain adalah kategorisimbolik yang mencakup kategori-kategori lain. Sebuah domain terdiri dari batas, istilah tercakup, hubungan semantic dan istilah pencakup.

  1. Langkah ke 6; Membuat Analisis Domain
Ada beberapa langkah yang bisa digunakan dalam melakukan analisis domain :
(a)    Langkah 1, Memilih satu hubungan semantic tunggal, yaitu memulai dengan melihat hubungan semantic universal, kemudian focus pada kata benda dan pada kata kerja.
(b)   Langkah 2, Mempersiapkan Satu Lembar Kerja Analisis Domain, yaitu upaya memvisualisasikan istilah pencakup, hubungan semantic, istilah tercakup dan batas. Bisa dengan kertas kerja tersendiri untuk memasukkan informasi tertentu sebelum memulai pencarian yaitu (1) hubungan semantic yang dipilih, (2) statement dalam bentuk yang di ekspresikan, (3) contoh dari budaya anda kalimat yang memiliki istilah tercakup, hubungan semantic dan satu istilah pencakup
(c)    Langkah 3, Memilih satu sampel dari statement informan, yaitu pernyataan informan secara harfiah, bahkan fragmen-fragment pembicaraan dengan informan  secara partisipasi.
(d)   Langkah 4, Mencari sitilah pencakup dan istilah tercakup yang memungkinkan dan sesuai dengan hubungan semantic.
(e)    Langkah 5, Memformulasikan pertanyaan-pertanyaan structural untuk masing-masing domain.
(f)    Langkah 6, Membuat daftar untuk semua domain yang dihipotesiskan.

  1. Langkah ke 7; Mengajukan Pertanyaan Struktural.
Pertanyaan structural harus mempertimbangkan (a) prinsip konkuren yaitu bahwa yangpaling baik adalah mengganti berbagai type pertanyaan dalam masing-masing wawancara , (b) prinsip penjelasan, yaitu pertanyaan yang seringkali menuntut penjelasan, (c) prinsip pengulangan yaitu pertanyaan structural yang harus di ulang-ulang berkali-kali untuk memperoleh semua istilah tercakup dalam sebuah domain, (d) prinsip konteks yaitu informasi yang diberikan etnografer ketika mengajukanpertanyaan structural dalam rangka memberikan setting dimana domain itu menjaid relevan, (e) prinsip kerangka kerja budaya yaitu memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan structural yang diajukan harus dalam konteks budaya informan.  Harus diingat bahwa pertanyaan structural ini melengkapi bukan menggantikan pertanyaan deskriptif.

Type pertanyaan structural terdiri dari (a) pertanyaan pembuktian (b) pertanyaan istilah pencakup, (c) pertanyaan istilah tercakup, (d) pertanyaan kerangka substansi. Dari pertanyaan structural ini, sering menghasilkan daftar istilah-istilah penduduk asli. Sangat baik bila dituliskan pada kartu, kemudian dapat melakukan tri angulasi kepada informan.

  1. Langkah ke 8; Membuat Analisis Taksonomik.
Analisis taksonomik dilakukan untuk mengidentifikasi subset-subset dalam sebuah domain dan berbagai hubungan diantara subset tersebut. Dengan melakukan analisa taksonomik, maka kita akan menemukan struktur internal sebuah domain.

  1. Langkah ke 9; Mengajukan Pertanyaan Kontras.
Dari hasil analisis taksonomi diperoleh takson-takson. Berdasar dari takson-takson yang ada, dilakukan penelitian selanjutnya dengan mengajukan pertanyaan kontras kepada informan untuk mencari hubungan antara domain yang satu dengan domain yang lain, dan untuk mencari perbedaan-perbedaannya. Dengan mengetahui perbedaan tersebut, maka etnografer dapat memperoleh makna menyeluruh tentang informasi dari para informan.

  1. Langkah ke10, Membuat Analisis Komponen.
Analisis komponen merupakan suatu pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna) yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya. Dalam analisis komponen, meliputi keseluruhan proses pencarian berbagai kontras, pemilihan berbagai kontras, mengelompokkannya sebagai dimensi kontras, danmemasukkan semua itu kedalam sebuah paradigm. Dengan kata lain, dari hasil pertanyaan kontras, peneliti menganalisis komponen-komponen yang terdapat didalam domain-domain. Dalam analisis komponen ini dipersiapkan lembar paradigma untuk mencari komponen menurut karakteristik dari setiap domain.

  1. Langkah ke 11; Menemukan Thema-Thema Budaya
Spradley mendefinisikan tema budaya sebagai prinsip kognitif yang bersifat tersirat maupun tersurat, berulang dalam sejumlah domain dan berperan sebagai suatu hubungan diantara berbagai sub sistem makna budaya. Untuk itu, tema-tema budaya memiliki (a) prinsip kognitif, yaitu peta kognitif yang membentuk suatu kebudayaan, (b) tersirat atau tersurat, yaitu yang tampak seperti pribahasa rakyat, motto, pepatah, atau ekspresi berulang, (c) tema sebagai hubungan,  yaitu menghubungkan berbagai sub system didalam kebudayaan.

  1. Langkah ke 12; Menulis Sebuah Etnografi
Cara terbaik untuk menulis sebuah etnografi adalah dengan membaca etnografi lain. Untuk itu, kita harus memilih etnografi yang ditulis dengan cara membuat budaya itu hidup sehinga membuat pembaca memahami orang-orang serta cara mereka hidup. Membaca etnografi yang baik selama proses penulisan, secara tidak langsung akan membuat tulisan kita membaik  tanpa kita sadari.

Beberapa tahapan pembuatan etnografi : Tahap 1, Statement-statement universal, (b) Tahap 2, Statement-statement deskriftif lintas budaya, (c) Tahap 3, Statement umum mengenai suatu masyarakat atau kelompok budaya, (d) Tahap 4, Statement umum mengenai suatu suasana budaya, (e) Tahap 5, Statement spesifik mengenai sebuah domain budaya dan (f) Tahap 6, Statement insiden sfesifik.

Share:

Jumat, 27 Desember 2013

Lahirnya Peradaban Sosial Baru


(Refleksi Peryaan Natal 25 Desember 2013)


*Boy Raja Pangihutan Marpaung

Perayaan natal merupakan hari yang sangat penting bagi kaum nasrani. Histori lahirnya seorang Mesias (penyelamat) ke bumi yang menyelamatkan jiwa-jiwa manusia dari tindakan yang serakah dan menuntunnya ke jalan yang benar. Tepat pada tanggal 25 Desember semua kaum nasrani akan merayakannya dengan sebutan perayaan natal dengan metode-metode yang berbeda. 
Momentum lahirnya Juru S’lamat (Jesus) seakan menjadi euforia yang tak dapat terlewatkan begitu saja setiap tahunnya. Kemegahan ditunjukkan kaum nasrani dalam perayaan natal ini. Maka tidak heran jika kita melihat pesta kembang api, dandanan bangunan yang didekorasi dengan indah dan lampu berwarna yang menghiasi setiap sudut dimana kaum nasrani tiggal.
Banyak hal yang menjadi terbiasakan yang akhirnya terbudayakan pada perayaan natal ini yang akhirnya menghilangkan substansi dari natal tersebut. Baju baru, sepatu baru, serta perlengkapan baru yang sejatinya hanya menghias diri pada saat momentum itu saja. Hal ini tentu tidak menunjukan sebuah kondisi yang sebenarnya dari peradaban sosial yang sebenarnya. Artiannya kita hanya bertopeng sesaat hanya untuk evoria momentual, yang seharusnya tidak demikian.
Berangkat dari Histori
Merefleksikan kembali makna dari kelahiran sang Mesias (Jesus) ke bumi menjadi keharusan yang sangat penting bagi kaum nasrani. Mengulas kembali makna sejarah yang mulai pudar dan terbawa oleh arus zaman harus di hentikan. Karena apabila kita tidak berangkat dari sejarahNya, kita tidak akan tau substansinya.
Jika kita kembali kebelakang dan melihat perjalanan dari Jesus, kelahiranNya merupakan sebuah tesis sebuah peradaban baru bagi masyarakat Israel. Kondisi yang pada saat itu Roma menguasai Israel di bawah pimpinan Pontius Pilatus, seperti menggambarkan sebuah bentuk jaman feodalisme bercampur kolonialisme yang sangat jelas menyengsarakan masyarakat Israel.
Kemiskinan dan perbudakan terjadi dimana-mana. Masyarakat Israel pun seakan buas dan tidak peduli dengan orang sekitarnya yang mengakibatkan sifat individualisme tumbuh subur pada masyarakatnya. Bahkan tidak peduli walaupun kematian menjemput masyarakat disekelilingnya asalakan dirinya terselamatkan dari kondisi sosial yang mengerikan itu.
Kondisi sosial seperti itu telah membutakan kesadaran masyarakat Israel. Kekuasaan pemerintahan Rhoma telah melahirkan penderitaan kemiskinan. Namun datangnya Jesus ke dunia merubah hal ini. Seakan kemenangan masyarakat Israel dari bentuk feodalsisme kolonial sudah tidak lama lagi.
Secara perlahan Jesus memberikan kesadaran sosial dari pesan-pesan yang telah dia sampaikan seperti “Jika kau memiliki dua, maka berikanlah kepada teman mu yang tidak memilikinya satu”, “Ketoklah maka pintu akan dibukakan” dan bagaimana cara Jesus membentu kebersamaan 5000 orang hanya dengan 3 roti dan 2 ikan. Banyak lagi hal yang sebenarnya berbentuk pesan-pesan yang sifatnya bukan hanya sekedar. Bukan berarti ketika kita memberikan sedekah pada pengemis berarti kita telah melakukannya.
Bukanlah demikian maksud dari pesan Jesus. Artiannya, kita manusia memiliki kebutuhan yang sama dalam menjalani kehidupan, tidak membeda-bedakan dari segi apa pun. Jika kita salah maka akan salah dan jika benar maka akan tetap benar.  Kebersamaan dengan menanmkan kasih pada masyarakat Israel menjadi hal yang memudahkan masyarakat tersebut untuk menjalani kehidupan tentunya. Dalam kondisi yang masih di jajah akan lebih menguntungkan masyarakat untuk tetap bertahan hidup dengan adanya kebersamaan tersebut.
Untuk Peradaban Baru
Lambat laun melalui murid-murid Jesus maka menjadi banyaklah orang yang mengikuti jejakNya. Maka secara perlahan merubah watak dari masyarakat yang dulunya individualis menjadi peduli sesama. Hal ini tentu yang mendorong mengapa Jesus disebut dengan Mesias atau penyelamat.
Menghapuskan perbedaan dan merubah watak yang hanya ingin mendapatkan kepentingan pribadi menjadi salah satu kunci yang di gunakan Jesus. Berjalan kesana-kemari seakan melakukan diskusi publik hanya untuk menyebarkan kasih kepada masyarakat.  Maka mulailah muncul bibit-bibit sebuah peradaban baru. Kepercayaan dan penentangan pada feodalisme kolonial Rhoma pun di mulai dari bentuk-bentuk upeti yang semakin sedikit di merikan masyarakat kepada pemerintah melalui pajak pun mulai terjadi. Ini dikarena kan perlunya saling memberi antar masyarakat sesuai yang diajarkan Jesus.
Hal ini tentu mengganggu perjalanan politik Rhoma untuk menguasai Israel yang mengakibatkan Jesus di tangkap dan dibunuh melalui penyaliban. Namun kematian Jesus bukanlah akhir dari perjuangan kebersamaan masyarakat Israel. Melalui murid-muridnya tetap mengumandangkan kebersamaan dan kasih lah yang terutama. Maka setelah bertahun-tahun setelah kematian Jesus, masyarakat Israel berhasil mengusir penjajah Rhoma dari Israel.
Mulai dari situlah dikumandangkan metode-metode Jesus untuk menyelamatan manusia dari keserakahan. Terbangun sebuah kelompok yaitu kaum nasrani yang mengilhami ajaran Jesus dan menjadi panutan bagi kehidupan sehari-hari. Maka lahirlah peradaban baru.
Maka kita sebagai generasi nasrani saat ini, bagaimana kita dapat merefleksikan ajaran-ajaran Jesus dewasa ini. Sudahkah kita menanamkan kasih, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sosial saat ini atau masih tetap dalam perangkap keserakahan? Kita sudah harus mulai memahami substansi dari kelahiran sang Mesias ke bumi ini dan menjalankan semua perintah-perintahNya, dengan demikian kita dapat disebut sebagai generasi nasrani.
Merayakan kelahiran Jesus bukanlah sekedar kebersamaan pesta yang kita lengkapi dengan pernak-pernik penghias tubuh yang indah dan baru saja. Yang hanya menunjukkan kita sama hanya sesaat saja, sementara dalam kehidupan sehari-hari kita sebenarnya banyak yang harus mengganti baju 3 hari sekali ataupun kelaparan karena dilanda kemiskinan. Sementara di satu sisi diantara kita banyak yang memiliki harta berlimpah.
Bukan kemegahan atau kecantikan maupun benda-benda baru serta pesta euforialah lambang dari kelahiran Jesus. Kandang domba melambangkan kesederhanaan dan kasih merupakan cita-cita yang harus kita tanamkan untuk sebuah kebersamaan tanpa perbedaan pada kaum nasrani untuk membangun sebuah peradaban sosial yang baru tanpa keserakahan.
Oleh karena itu, mulai saat ini marilah kita menanamkan pada diri kita sebagai kaum nasrani. Untuk menanamkan kasih serta kesetaraan pada diri kita ke sesama manusia seperti yang di ajarkan sang Mesias. Demi peradaban sosisal yang lebih baik kedepan untuk masa depan bumi dan manusia.
Saya terispirasi dari buku Teologi Pembebasan yang ditulis oleh Gustavo Guetierres. Buku yang menjadi panutan bagi negara-negara Amerika Latin yang memang memahami makna dari peran Jesus dalam peradaban sosial. Semoga tulisan sederhana saya ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan refrensi dan refleksi bagi kaum nasrani.
Selamat Natal........
Glorya...!

Share:

Selasa, 17 Desember 2013

Senja dan Super Moon















Share:

Jumat, 13 Desember 2013

Binatang Kecil di Depan Rumah

Add caption

Add caption

Add caption


Add caption
Add caption
Add caption

Add caption

Add caption
Add caption

Add caption
Add caption

Share:

Selasa, 03 Desember 2013

Visualisasi Gunung Sinabung dan Sekitarnya "Sang Raksasa"

Silahkan klik foto jika ingin melihat lebih jelas!


Sejak tanggal 26 Nopembber 2013 lalu, Gunung Sinabung menjadi bahan panas pembicaraan masyarakat sampai detik ini, itu diakibatkan karena semakin besarnya pengaruh yang dibuat gunung terebut untuk di bicarakan.
Letusan-letusan gunung ini menjadi hal yang menakutkan, sekali 2 jam biasanya gunung ini akan meletus. Mengakibatkan masyarakat disekitar kaki gunung Sinabung ini harus melakukan evakuasi untuk mengantisipasi bahayanya yang akan ditanggung

Ribuan masyarakat sudah mengungsi dan membuat posko-posko evakuasi untuk tempat beristirahat sementara waktu, menunggu kembali normal aktivitas gunung merapi yang sedang siaga itu. Seperti pada posko kedua dari kaki gunung yang kami singgahi. Masyarakat ini terpaksa mengungsi di Jambur dan menjadikan jambur tersebut sebagai posko evakuasi sekitar 450 orang. Beberapa masyarakat yang berasal dari berlainan desa juga berkumpul di gereja-gereja dan mesjid.

Banyak keluhan masyarakat atas kejadiannya, diantaranya tidak sigapnya pemerintah terhadan korban yang mengungsi, sehingga mereka harus membuat posko mereka sendiri. Serta terlontarnya ejekan kepada Bupati Karo yang bernama Karo Jambi menjadi Kera Jambi oleh masyarakat. "Sangat sombong, dan dia bilang  dia  yang lebih penting tetap hidup dari pada masyarakat yang mengungsi" tegas salah satu pengungsi (RS).

Belum lagi iformasi dari BMKG yang sangat lambat dan cendrung menakut-nakuti. BMKG mengatakan kepada masyarakat bahwa gunugn Sinabung adalah gunung siluman yang tidak tau kapan akan meletus. Masyarakat juga mempertanyakan status mereka, karena tidak tahu kapan mereka bisa kebali beraktivitas.

Sebagian besar tanaman dan sayuran pertanian masyarakat disitu habis gosong dan layu serta positif gagal panen. "Dari sinilah sumber sayuran, disini juga kami tidak bisa menikmatinya" Kata RS. Sangat ironis melihat tanaman itu semua rata-rata hancur dan tidak bisa di panen. Adapun yang dapat di panen, tidak sesuai dengan waktu panenya.
Abu vulkanik senantiasa menemani aktivitas masyarakat tersebut baik siang hari maupun waktu tidur. Bahkan embun pagi yang dulunya segar kini bercambur dengan abu. Walaupun demikian, masyarakat disana juga sangat minim menggunakan masker. Pembagian yang hanya di bagi satu masker untuk satu pengungsi tentu tidak cukup untuk di pakai setiap hari melihat kondisi abu yang terus menyelimuti waktu mereka.
Galang Solidaritas mu!

GUNUNG SINABUNG SEKITARNYA DILIHAT DARI BEBERAPA SUDUT PANDANG

Puncak Sinabung

Dari Sela Daun

Sinabung dan Pertanian

Gunung Sinabung
Gunung Sipiso Piso

Gunung Sipiso-Piso dan Kota
Berastagi

Senja
Pagi

Sinabung dari Good Bye Darlibg
(GUNDALING)

Berastagi dan Bukit Barisan
Gunung Sinabung dan
Perkebunan Jeruk

Dari Asap Kecil

Lubang di Punggung G.Sinabung
yang Ditembak Gunung
Sibayak (MITOS)

KONDISI SAWAH DAN LADANG DI BERASTAGI














BINATANG DI SEKITAR TEMPAT CAMPING

kupu-kupu

Laba-Laba Pohon
Laba-laba mencri mangsa

Laba-laba dan Bunga 
Laba-laba Hijau
Lalat Hutan

Memperbaiki Jaring

HASIL PERTANIAN (TOMAT) GAGAL PANEN
DAN HARUS DIPANEN LEBIH DINI



Add caption

Add caption

Add caption
Add caption

Add caption

Add caption


AKTIVITAS KORBAN 

GUNUNG SINABUNG
 DI SALAH SATU
 POSKO EVAKUASI

Memanen Paksa








Seorang nenek dengan cucunya di posko
evakuasi
Mendiskusikan bahan makanan
 pengungsidi dapur jambur

Walaupun di landa bencana, mereka berusaha
untuk tetap hidup dan mencari
nafka "menjemur tembakau"

Seorang ibu yang sedang menggendong anaknya
dan marah bercerita karena tidak ada perhatian dari PemKab.Karo
Memasak bersama, untuk bersama
di dapur jambur evakuasi
  
Seorang bapak yang berusaha
menghidupkan api dari bara
kayu

Sedang memasak telur sebagai
lauk untuk makan siang para pengungsi





















Share:

BTemplates.com

Generasi Padi

Generasi Padi
Nassau

Total Tayangan Halaman

Rumah Kami

Rumah Kami
Porsea
@barunkbijiapikatamata. Diberdayakan oleh Blogger.

Mata yang Berbicara

Mata yang Berbicara
Canon 600D

Daftar Blog Saya

Translate

Pengikut

Labels