Seorang perempuan yang sangat progersif dalam pembasahan sosial ini telah mengalahkan kesataraan jender, dia tidak lagi melihat perbedaan jender menjadi masalah, bahkan dia sudah mengakui diri tanpa doktrin kelas, terlihat dari bacaan "Gerakan Tanpa Kelas" yang ada di dinding kamarnya. Ketuntasannya dalam hal ini di perlihatkan di sebuah rumah bersama yang tak membedakan antara laki-laki dan perempuan, menyamakan setiap tindakan yang tentunya tidak bersifat Liberal.
Sabtu, 09 November 2013
Membunuh Kelas Diri "Marx" paint
Seorang seniman yang sedang melukis gambar Marx dengan menggunakan topi hitam dengan bertuliskan "SUICIDAL TENDENCIES" yang memiliki arti Cendrung Membunuh Diri, yang sangat singkron dengan teori Marx yang menggunakan sistem Pembunuhan Kelas Diri dari watak Borjuis menjadi Watak Proletariat
Kaki Sebagai Pondasi
Melangkah kan sebuah kaki tidaklah sembarangan, selama ini kemana kaki mu melangkah? Nah, sekarang mulai lah melangkahkan nya untuk menuntun kehidupan manusia yang berkelanjutan.
Jumat, 08 November 2013
Pesan untuk Hutan
*Boy Raja Pangihutan Marpaung
Maka tak enggan
aku menyampaikan
Bukan aku tak tau
malu
Berjuta kata ku
tak akan menahan tangismu
Aku menyesal
dengan banyak beban
Tanpamu aku kosong
tak berguna
Kau beri aku
oksigen kehidupan
Tak rela diriku
kau menjadi rata
Apa dayaku mereka
yang pegang kuasa
Bukan aku tak
membela
Namun aku hanya
minoritas
Jangan menyesal
menempati tanah ini
Ku rindukan senyum
mu untuk kelangsuan hidupku
Lihatlah binatang
mu kini berbaris menuju kota
Sengsara menjadi
tuna wisma
Tumbuhlah,
besarlah, hidupi kami dengan hijaumu
Pulihkan kami dari
sakit yang sekian lama
Tak akan pernah
menyerah menanti
Hingga aku berada
bersama akar-akar mu nanti
Puisi ini untuk hutan kemenyan yang merupakan hutan ulayat bagi
masyarakat Lintong Nihuta
2009, Desa Lintong Nihuta Kab.Humbahas SUMUT
Pengorbanan Surya
*Boy Raja Pangihutan Marpaung
Kau hadir dari
timur untuk menemui kami
Sentuhan hangat
warna mu membangunkan dengan lembut
Setiap pagi
tepukan cahaya mu mengingatkan kami dengan waktu
Ku pandang slalu
dirimu di saat itu
Kagum dengan
kegagahanmu
Kau berjalan tanpa
lelah mengelilingi kami
Kau menuju barat
dengan melintas tepat dari atas kami
Maka kau buatkan
siang utuk kami
Kau memandang kami
semuanya dengan jelas
Kagum dengan
tajamnya matamu
Tak sedikit dari
kami pun menghindar darimu
Gerakan kami
menunjukkan takut pada mu
Ada yang
bersembunyi di bawah payung
Dan ada juga yang
menggunakan topi
Kagum atas
kekuatan mu
Sebenarnya kau tak
ingin kami takut padamu
Kamilah yang salah
atas ketakutan kami
Telah rusaknya
ozon karena keserakan
Sehingga hangat mu
menjadi siksaan bagi kami
Kagum atas
kesbaran mu
Sampai kau ingin
tertidur di barat
Kami merasa
bersalah pada kami
Namun kau buatkan
senja yang indah untuk kami
Entah apa yang
harus kami perbuat untuk membalasmu
Kagum pada kesetiaan
mu
2012, Medan
Pemimpin Ku
*Boy Raja Pangihutan Marpaung
Raut
wajahmu menunjukkan ketegasan
Langkah
kakimu menunjukkan kemajuan
Pandangan
mu menunjukkan kecerdasn
Alunan
tangan mu menunjukkan kewibawaan
Dalam
prinsip kau jadi panutan
Rakyat
lapar kau sulang
Rakyat
terjatuh kau gendong
Rakyat
menangis kau marah
Rakyat
bodoh kau ajari
Daerita
rakyat menjadi kesengsaraan mu
Palu
di tangan mu untuk membangunan negara
cangkul mu untuk perekonomian
cangkul mu untuk perekonomian
Isi
kepala mu untuk pengetahuan
Tubuh
mu menjadi pondasi negara
Kau
tak pernah mengeluh ke negara lain
Kau
ajarkan kami mandiri
Kau
ajarkan kami kebersamaan
Kau
ajarkan kami kesederhanaan
Kau
jauhi kami dari kosombongan
Adakah
engkau pemimpin ku ?
2013, Medan
Cerita Sampah
*Boy Raja Pangihutan Marpaung
Dihina
Dicaci
Dicampakkan
Dipijak
Dibakar
Dibuang
Namun tidak pernah
marah
Awal yang baik kau
selalu dijaga
Dipergunakan untuk
kebutuhannya
Dimanfaatkan untuk
kepentingannya
Berkorban demi
kepuasan mereka
Surga mu tidak
memiliki banyak waktu
Ayunan tangan
mereka mengarahkan mu ketempat yang kotor
Kau diremas sampai
lekukan setiap sudut mu berubah entah jadi apa
Neraka mu pun tiba
Mereka pun enggan
mendekati mu
Kadang kau di
jamah hanya menggunakan dua jari
Itu pun hanya
ujung kedua jari itu
Ketika
mengharapkan mu kembali mereka akan mendekat dengan menutup hidungnya
Akhir yang pedih
pun menjadi realita
Tak terpikir ini menjadi cerita
Pembahasan hebat
di semua negri
Dan menjadi hal yang harus di musnahkan
Tuduhan atas
datangnya penyakit
Tuduhan terjadinya
banjir
Tuduhan sumber bau
busuk
Itu mengarah
kepadamu
Juga tetap tidak
marah
Tak sadarkah
mereka yang menjadikan mu sampah?
Tak sadarkah
mereka yang telah menfitnah mu itu?
Inilah ceritaku
untuk mu karna mereka
Hanya dermagamu
sang tong sampahlah yang memahami perasaanmu
2013,Medan
Bernegara
*Boy Raja Pangihutan Marpaung
Ingin adil
Ingin sejahtera
Ingin makmur
Tapi tidak bisa
Bisa tapi tak
disini...!
Hidup rukun
Damai
Hidup Bersama
Tapi tidak bisa
Bisa tapi tak
disini...!
Beragama
Beradat
Bersuku
Tapi tidak bisa
Bisa tapi tidak
disini...!
Berkarya
Kreatif
Pintar
Tapi tidak bisa
Bisa tapi tak
disni...!
aman
bersih
tertib
Tapi tidak bisa
Bisa tapi tak
disini...!
Sejuk
Asri
Rindang
Tapi tidak bisa
Bisa tapi tak
disini...!
2011,
Medan














